Latest Event Updates

PEMA Unaya : Pemotongan Dana Desa Untuk KPA Melanggar Hukum

Posted on Updated on

presma-unayaBANDA ACEH-Pemerintahan Mahasiswa Universita Abulyatama Aceh (PEMA Unaya) menilai pemotongan dana desa yang dilakukan KPA Sagoe dikecamatan Tanah Jamboe Ayee merupakan pelanggaran hukum.

Presiden Mahasiswa (Presma) Unaya Muslim menyebutkan secara hukum tidak ada alasan yang membenarkan pemotongan dana desa tersebut, termasuk kesepakatan bersama antara pak keuchik dan KPA sagoe.

“Dana desa harus digunakan melalui prosedur yang jelas untuk pembangunan desa melalui usulan program yang telah disepakati bersama dalam musyawarah desa dengan melibatkan unsur pemerintahan desa.Sedangkan KPA bukanlah perangkat pemerintahan desa dan tidak berhak meneriama alokasi anggaran tersebut,”kata Muslim kepada AJNN, Kamis (08/10)

Dikatakan Muslim, anggaran desa yang telah dipotong harus segera dikembalikan seperti semula. Kejadian seperti ini harus ditanggapi secara serius oleh kepolisian agar tidak terulang di masa yang akan datang. Baca entri selengkapnya »

PEMA Unaya Desak Pemerintah dan DPR Aceh Segera Sahkan APBA-P

Posted on

presma-unayaLINTAS NASIONAL – BANDA ACEH, Presiden Mahasiswa (PEMA) Universitas Abulyatama Banda Aceh Mendesak DPR Aceh dan Pemerintah Aceh untuk segera mengesahkan APBA Perubahan.

Hal itu disampaikan Presiden Mahasiswa (Presma) Unaya Muslim El Yamani kepada LINTASNASIONAL.com Kamis 22 Oktober 2015, menurutnya, jadwal sidang paripurna pengesahan APBA Perubahan 2015 belum jelas hingga saat ini.”Kondisi ini akan berdampak negatif karena bakal molornya pembahasan dokumen RAPBA 2016″, ujarnya

Katanya, Paripurna pembahasan APBA-P belum ada titik temu sampai saat ini.”Kita menyesalkan sampai sekarang belum ada kejelasan Tentang APBA-P, artinya hak rakyat di tunda-tunda lagi,” jelas Muslim

“Kita sama-sama menyadari bahwa Aceh masih sangat tergantung dengan APBA-P, dengan belum adanya kejelasan kapan pengesahannya sama saja memperlambat perekonomian rakyat,” Ungkapnya Baca entri selengkapnya »

Melihat 10 Tahun Perdamaian Aceh

Posted on Updated on

“adanya dominasi dari salah satu partai di Aceh saat ini tidak sehat terhadap kondisi demokrasi karena tidak terjadinya check and balance terutama menyangkut kekuatan politik di parlemen sementara partai nasional justru bersikap pragmatis”

Foto : google image
Foto : google image

DEKAN Fakultas Hukum Universitas Abulyatama, Wiratmadinata, SH.,M.H mengkritisi kondisi Aceh pasca 10 Tahun Perdamaian. Ia melihat, saat ini masih terjadi kemiskinan dihampir setiap pelosok Aceh meski anggaran di Aceh begitu banyak.

“Terjadi kesalahan pada perencanaan, sehingga anggaran besar belum mampu memberikan manfaat yang maksimal bagi rakyat,” ujar Wira dalam Diskusi Terbatas membahas Sinergitas Hubungan Aceh-Jakarta di Hotel Hermes Palace, Banda Aceh, Rabu (3/9/2015)

Ia mengatakan, bahwa telah terjadi perubahan dan transformasi sosial politik sekaligus sesuai dengan kesepakatan GAM dan Pemerintah RI sebagai bagian dari “peta jalan” perdamaian Aceh, sebagai contoh dibolehkannya pembentukan partai lokal di Aceh, berdirinya Lembaga Wali Nanggroe, dibolehkannya calon independen dan dibolehkannya Aceh memiliki atribut keistimewaan, bendera, lambang serta himne telah menggambarkan kondisi perubahan dan transformasi sosial politik  tersebut

“Terlepas bahwa transformasi politik diatas cendrung bersifat simbolik dan tidak terlalu menyentuh kebutuhan rakyat saat ini, tetapi hal itu sudah legitimate dan tidak bisa dinafikan bahwa proses pemenuhan tuntutan atas hal-hal yang bersifat politik telah berjalan dengan baik,” kata aktivis yang juga seniman itu. Baca entri selengkapnya »

Trumon, Sisa Kerajaan Tua di Pedalaman Aceh Selata

Posted on Updated on

TRUMON adalah sebuah wilayah paling ujung di Aceh Selatan. Trumon merupakan ibukota kecamatan salah satu kecamatan di Aceh Selatan yang berbatas langsung dengan Kabupaten Aceh Singkil dan Subulussalam. Di sana ada banyak mukim dan gampông. (baca-Peta Trumon)

Sejalan dengan kemajuan zaman dan penambahan penduduk, Trumon dimekakarkan dalam tiga kecamatan. Trumon Timur dan Trumon Tengah merupakan dua kecamatan hasil pemekaran Trumon (kecamatan induk). Letaknya di lintasan jalan negara (Tapaktuan – Medan). Adapun Kecamatan Trumon tetap menjadi sebuah wilayah pemerintahan kecamatan yang terasing di pedalaman. Wilayah ini akrab disebut dengan Keudee Trumon.
trumonLetak Keudee Trumon jauh dari lalu lintas jalan raya, lebih kurang 15 kilometer dari jalan negara menuju pusat kecamatan. Dalam sejarah Aceh, Trumon merupakan sebuah kerajaan yang berdaulat dan mempunyai sistem kerajaan yang tersohor hingga beberapa negara di Asia dan Eropa. Dalam beberapa tulisan/artikel serta cerita-cerita rakyat disebutkan bahwa Kerajaan Trumon sudah dimulai sejak abad 17.

Dikisahkan saat itu ada seorang pendatang dari Aceh Besar membangun kerajaan di wilayah selatan Aceh. Kerajaan itu disebut Trumon. Orang yang membangun kerajaan di sana dikenal dengan sebutan Tengku Djakfar. Singkat cerita, berdirilah kerajaan Trumon tersebut dan akhirnya mendapat pengakuan dari Kerajaan Aceh dengan diberikannya Cap Sikureueng dan memiliki mata uang sendiri. Baca entri selengkapnya »

Dibalik Kisah Panglima Polem

Posted on Updated on

“Panglima Polem itu bukan satu orang, seperti yang dipikirkan masyarakat selama ini. Panglima Polem I , II, dan Panglima Polem III berjuang melawan Portugis. Sedangkan Panglima Polem IV sampai Panglima Polem X berjuang melawan Belanda…”


Oleh Junaidi Mulieng (*
 
SAYA sudah tiga tahun menemani Panglima,” ungkap lelaki tua itu. “Itu saya lakukan atas kerelaan dan keikhlasan hati saya. Tidak ada bayaran sedikit pun yang saya terima dan saya tidak mengharapkan apa-apa,” lanjutnya.
Namanya Teungku Abdullah. Rambutnya sudah memutih. Dari kaki sampai wajahnya dipenuhi keriput. Ia menyandarkan tubuhnya yang lemas pada sebidang kayu yang jadi sekat tempat penyimpanan padi. Abdullah adalah penjaga arel permakaman Panglima Polem.
“Meunoe keuh meunyoe ka tuha, meusapeu hanjeut ta peubeut le (beginilah kalau sudah tua, tidak bisa kerja apa-apa lagi),”sambung Abdullah dengan suara parau. Ia mengenakan baju putih tua lengan panjang yang dilipat sebatas siku dan celana abu-abu.
“Ka lhee beuluen Abu saket, hana geujak sahoe (sudah tiga bulan Abu sakit, beliau tidak ke mana-mana),” ujar Yusuf, sang cucu yang mendampinginya.
Usia Abdullah 90 tahun. Suaranya pelan dan parau, sehingga beberapa kali apa yang diucapkannya kurang jelas terdengar. Untuk berbicara dengannya pun harus dengan nada tinggi, karena pendengarannya juga mulai terganggu.
“Hana pah le londeungoe, beurayek bacut gata peugah hai neuk (pendengaran saya sudah tidak pas lagi, yang besar sedikit ngomongnya nak),” kata Abdullah.
Abdullah tinggal di rumah sederhana. Atap rumbia, lantai bambu. Dinding rumah terbuat dari anyaman pelepah rumbia. Rumah itu hanya terbagi dua bagian. Satu untuk dapur, satunya lagi untuk kamar tidur. Rumah Abdullah tak jauh dari areal pemakaman Panglima Polem.